Nyepi 2010..

Berpuas diri adalah ibarat membuat bangunan dengan menumpuk kartu remi,
Karena kalaulah hidup ini mengajarkan sesuatu,
Pelajarannya adalah bahwa kita tidak dapat menghindari masalah dan kehilangan.

Kebahagiaan bukanlah seni membangun kehidupan yang bebas dari masalah.
Kebahagiaan adalah seni untuk merespons dengan baik ketika masalah menghampiri kita..

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Les Diablerets – Swiss; Menikmati Hawa Dingin Pegunungan

Sekedar menuangkan memori, setelah tadi pagi had a short chatting dengan my little host niece di belahan dunia sebelah sana. Jadi teringat saat-saat liburan bersama mereka beberapa tahun lalu ditempat ini..

Les Diablerets terletak di Swiss, tepatnya di kawasan timur Canton Vaud, daerah bagian Swiss yang berbahasa Perancis. “Dikepung” oleh puncak-puncak gunung es menjulang, dan kesuburan tanah menghijau loh jinawi (subur dan makmur maksudnya), membuat desa les Diablerets berkilau setiap musim, baik musim panas maupun musim dingin.

Saat musim dingin yang menggigil, Les Diableret mengundang minat para turis pecinta olahraga Ski, Snowboard, serta juga para turis yang hanya ingin bermalas-malasan menikmati sengatan panas matahari ditengah-tengah timbunan salju. Disinilah ski pertamaku dilakukan sekitar dua belas tahun lalu. Glekkk!! Sudah lama juga yaa..
Sedangkan, saat musim panas yang menyengat, les Diablerets merupakan pilihan yang nikmat untuk berjalan kaki, mendaki gunung, ataupun bersepeda ke puncak gunung, tanpa ragu dan minder dengan bau keringat. :)

Dengan titik awal kota Zürich, kita bisa menggunakan akses mobil, kereta, maupun sepeda untuk mencapai perkampungan les Diablerets. Lho kok sepeda ? Jangan heran dan jangan bingung, karena bukan sulap bukan sihir, kalau saat musim panas banyak orang-orang bersepeda berseliweran mengelilingi negara Swiss yang hanya sebesar Jawa Barat besarnya. Namun sayangnya, saat itu hanya orang lain yang rela bersepeda ke les Diablerets, sedangkan saya sendiri bersama host family saya memilih roda empat untuk mencapai perkampungan tersebut. Hehehehe..

Saat tiba di perkampungan tersebut, hawa segar (menggigil) pegunungan menerpa hidung dengan kesegaran tiada tara. Teriknya matahari, hanya mampu memanaskan ujung hidung. Di daerah ini, masih banyak ditemukan bangunan tua yang kokoh terawat dan ditempati. Namun meskipun berada di desa, namun bangunan-bangunan tua itu memiliki peralatan yang lengkap dan modern. Bahkan rumah yang sekalipun dibangun pada tahun 1682, berisikan lengkap peralatan teknologi abad ke 21. Ckckckc..

Perkampungan les Diablerets di musim panas, dipenuhi oleh para turis, baik turis lokal maupun turis asing, membuat kampung ini semarak dengan berbagai macam atraksi lokal. Serta (juga) tak luput dari amatan saya, kuliner lokal! Gambar indah berbagai macam jenis kue dan coklat masih terbayang jelas dipelupuk mata, membuat saya makin rindu untuk kembali menyambut tantangan hati nurani untuk mencoba kembali hidangan penutup, yang kaya akan krem dan mentega, terbuat dari susu sapi murni made in Swiss.
Swiss yang sangat dikenal sebagai penghasil coklat. Sekalipun pohon kakao berasal dari Amerika Selatan, namun yang membuat coklat Swiss terkenal dengan mantap rasa adalah kualitas susu sapinya.

Binatang sapi di Swiss adalah binatang yang istimewa. Saat kita menaiki kereta di dalam bandara Zürich, maka suara lenguhan sapi digital menyambut dengan sigap bersama dentang bel. Pada toko-toko yang menjual souvenir, sering kita dapati gambar sapi berpolka dot hitam menyeringai, melenguhkan tulisan ‘Bienvenue en Suisse’ atau ‘Willkommen in der Schweiz’.

Jauh dari bandara Zürich, di pegunungan Alpen yang menjulang tinggi, di Les Diablerets, kita akan mendapati kembali gambar sapi. Namun kali ini, sang sapi tidak berpolka dot hitam, menyeringai melenguhkan ucapan selamat datang. Gambar sapi yang lihat di tempat ini adalah suatu rambu lalu lintas berbentuk segitiga merah dengan gambar seekor sapi ditengah-tengah. Memperingati kita dengan lantang, “Awas! Ada sapi!”.

Tak jauh dari rambu tersebut, kita bisa melihat segerombolan sapi-sapi sedang asyik mengunyah rumput dengan santai. Dibelakang gerombolan sapi tersebut, seorang gembala sapi berteriak-teriak memanggil sapi-sapi yang terpisah dari kelompoknya. “Ayo kesini!! Ngapain sih makan jauh-jauh, sini ngumpul!”. Hehehe..kira-kira gitu kali ya..

Sapi-sapi ini juga mempunyai nama dan mengenal namanya masing-masing. Aku masih ingat ketika host cousin ku menerangkan bahwa sapi-sapi tersebut harus dirawat dalam kondisi tenang, tidak boleh mengalami stress, dan makan dengan cukup serta teratur. Pada saat musim panas, si gembala sapi akan menggiring sapi-sapi ke atas gunung, untuk menyantap rumput-rumput pegunungan yang lebat.
Lalu kemudian saat musim dingin, sapi-sapi tersebut akan digiring turun ke lembah untuk menyantap rumput-rumput yang tersisa serta gulungan-gulungan rumput yang telah disiapkan sejak musim panas. Ia menambahkan, dengan menjaga ritme pola hidup sapi yang pelan-pelan kenyang, maka sapi-sapi ini akan dapat menghasilkan susu dan daging yang berkualitas optimal.

Ahh..jadi ingin segera kembali ke sana..

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Merah Marun Terminal Kata..

Seperti biasa, selalu saja tergoda. Menapaki pesawat pagi menyambangi terminal-terminal kota yang ingin dijelajahi, ramai.. banyak penumpang.  Keramaian yang nampak seperti sebuah suguhan menyambut kedatangan. Tapi lapar dan kantuk ini belum mau sirna.

“Inikah kebetulan?”

“Inikah ketetapan?”

Mana ku tahu, bila kita… (yaaa izinkanlah aku tetap menyebutnya: “kita”)

Jadi, biarkan saja ku susuri jalur ini. Berharap dapat pergi mengingkari bahwa kau tak lagi seperti dulu-dulu. Dulu sekali.. Aku hanya berharap langkah-langkah ini membuatku lelah menunggumu. Aku hanya meminta kursi terminal ini menjadi tahu diri lalu beranjak pergi meninggalkanku yang ternyata masih saja menunggumu.

Pantaskah bila masih saja menghiba hatimu yang telah membeku? Apakah kebekuan itu milikku?

Biarlah dalam serpihan-serpihanmu kusemai benih mawar merah. Semoga wanginya membuatmu rindu untuk mencumbui kembangnya yang merekah kisah-kisah lama dan mungkin kembali lagi suatu waktu. Siapa tahu?

Di terminal itu..

Aku menjadi pintu lapuk yang bahkan tak mampu tuk menhalangi hilangnya pijar matamu. Ketika pijar itu kau bawa pergi. Meninggalkan hatiku dalam hitam kelam. Namun pernahkah kau tahu hingga kini aku masih berjalan walau selalu terantuk pilunya rindu.

Aku menjadi sirene bisu yang bahkan tak mampu tuk mengusir rangkai derai tawamu, yang dulu kubiarkan lepas. Bebas berkeliaran di telinga siang dan malamku. Namun kini amblas dan hanya meninggalkan bekas, bekas sepi yang selalu menyayat hati.

Ahhh… di seluruh hati semakin bergemuruh kerinduan untuk memilikimu sekali lagi, selamanya..

Ya Allah!!!

Tubuh ini beku mematung. Sungguh ku tak mampu meraih tangannya yang semakin jauh, jauh tak tertempuh. Padahal ketika itu andai saja, andai saja…
Lidah ini kelu. Sungguh ku tak mampu berkata “berhenti!” ketika ia menghilang ditelan lalu lalang penumpang dan pengantar. Hingga kini aku masih mengutuki kebodohan diri.
Jari ini. Ahhhh jari ini… Memang tak berguna, yang hanya mampu menyeka mataku sendiri, ketika air mata mengalir bersama luruhnya keakuan yang sedari dulu aku banggakan. Sekarang sungguha ku kehilangan sandaran.

Sekarang aku belajar pada putaran kipas pesawat, atas-bawah. Entah kapan awal, entah kapan akhir.. tak peduli lagi. Sekarang aku belajar mempercayai semuanya menghantarkan pada makna yang tak pernah terteka, aku belajar percaya. Semoga…

Kini…

Sekarang aku mengantri lagi di gerbang keberangkatan, menukar kepasrahan dengan selembar tiket harapan. Sembari berusaha mengenali wajah sendiri. Mengenali dulu, dulu sekali hingga kini..

Ah, ternyata aku tak pernah cukup mampu menjadi pesawat yang membawakan untukmu rangkaian kedamaian dalam setiap kegelisahan. Ternyata aku bukanlah terminal tempat kau layak berharap meninggalkan air mata mencari tawa yang jauh diseberang sana, dibalik kokohnya gedung yang berselimut mendung: maapkan ketidakberdayaanku.

Kini, aku masih duduk sendiri berteman pagi yang tak pernah mengenal siang.

Memakan setangkup mimpi yang telah pupus, perlahan-lahan aku belajar menelan ketidakberdayaan. Sampai tiba waktunya harus bangkit bergerak memasuki pesawat sore, demi sebuah tujuan yang sempat terabaikan. Biar saja kutinggal kebodohan yang sekian lama telah membelengguku dengan rasa putus asa yang begitu menyiksa. Disini, biarlah disapu dan dibuang selamanya agar hilang. Walau sungguh aku tak benar-benar percaya..

Ah ternyata, masih saja tak bisa. Biarlah aku sekali lagi meminta..

Merangkai satu demi satu bayanganmu yang hingga kini tak mampu kusangkal. Menjadi sebuah pesawat yang membawa aku menghampirimu dalam setiap mimpi yang kau sendiri tak mengetahui. Atau biarlah aku membelikanmu tiket yang kuletakkan di saku belakangmu. Agar ketika lelahmu mendera, kau tahu kemana arah perjalanmu..

Note: Samarinda, 3/12/09

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar