Sekedar menuangkan memori, setelah tadi pagi had a short chatting dengan my little host niece di belahan dunia sebelah sana. Jadi teringat saat-saat liburan bersama mereka beberapa tahun lalu ditempat ini..
Les Diablerets terletak di Swiss, tepatnya di kawasan timur Canton Vaud, daerah bagian Swiss yang berbahasa Perancis. “Dikepung” oleh puncak-puncak gunung es menjulang, dan kesuburan tanah menghijau loh jinawi (subur dan makmur maksudnya), membuat desa les Diablerets berkilau setiap musim, baik musim panas maupun musim dingin.
Saat musim dingin yang menggigil, Les Diableret mengundang minat para turis pecinta olahraga Ski, Snowboard, serta juga para turis yang hanya ingin bermalas-malasan menikmati sengatan panas matahari ditengah-tengah timbunan salju. Disinilah ski pertamaku dilakukan sekitar dua belas tahun lalu. Glekkk!! Sudah lama juga yaa..
Sedangkan, saat musim panas yang menyengat, les Diablerets merupakan pilihan yang nikmat untuk berjalan kaki, mendaki gunung, ataupun bersepeda ke puncak gunung, tanpa ragu dan minder dengan bau keringat.
Dengan titik awal kota Zürich, kita bisa menggunakan akses mobil, kereta, maupun sepeda untuk mencapai perkampungan les Diablerets. Lho kok sepeda ? Jangan heran dan jangan bingung, karena bukan sulap bukan sihir, kalau saat musim panas banyak orang-orang bersepeda berseliweran mengelilingi negara Swiss yang hanya sebesar Jawa Barat besarnya. Namun sayangnya, saat itu hanya orang lain yang rela bersepeda ke les Diablerets, sedangkan saya sendiri bersama host family saya memilih roda empat untuk mencapai perkampungan tersebut. Hehehehe..
Saat tiba di perkampungan tersebut, hawa segar (menggigil) pegunungan menerpa hidung dengan kesegaran tiada tara. Teriknya matahari, hanya mampu memanaskan ujung hidung. Di daerah ini, masih banyak ditemukan bangunan tua yang kokoh terawat dan ditempati. Namun meskipun berada di desa, namun bangunan-bangunan tua itu memiliki peralatan yang lengkap dan modern. Bahkan rumah yang sekalipun dibangun pada tahun 1682, berisikan lengkap peralatan teknologi abad ke 21. Ckckckc..
Perkampungan les Diablerets di musim panas, dipenuhi oleh para turis, baik turis lokal maupun turis asing, membuat kampung ini semarak dengan berbagai macam atraksi lokal. Serta (juga) tak luput dari amatan saya, kuliner lokal! Gambar indah berbagai macam jenis kue dan coklat masih terbayang jelas dipelupuk mata, membuat saya makin rindu untuk kembali menyambut tantangan hati nurani untuk mencoba kembali hidangan penutup, yang kaya akan krem dan mentega, terbuat dari susu sapi murni made in Swiss.
Swiss yang sangat dikenal sebagai penghasil coklat. Sekalipun pohon kakao berasal dari Amerika Selatan, namun yang membuat coklat Swiss terkenal dengan mantap rasa adalah kualitas susu sapinya.
Binatang sapi di Swiss adalah binatang yang istimewa. Saat kita menaiki kereta di dalam bandara Zürich, maka suara lenguhan sapi digital menyambut dengan sigap bersama dentang bel. Pada toko-toko yang menjual souvenir, sering kita dapati gambar sapi berpolka dot hitam menyeringai, melenguhkan tulisan ‘Bienvenue en Suisse’ atau ‘Willkommen in der Schweiz’.
Jauh dari bandara Zürich, di pegunungan Alpen yang menjulang tinggi, di Les Diablerets, kita akan mendapati kembali gambar sapi. Namun kali ini, sang sapi tidak berpolka dot hitam, menyeringai melenguhkan ucapan selamat datang. Gambar sapi yang lihat di tempat ini adalah suatu rambu lalu lintas berbentuk segitiga merah dengan gambar seekor sapi ditengah-tengah. Memperingati kita dengan lantang, “Awas! Ada sapi!”.
Tak jauh dari rambu tersebut, kita bisa melihat segerombolan sapi-sapi sedang asyik mengunyah rumput dengan santai. Dibelakang gerombolan sapi tersebut, seorang gembala sapi berteriak-teriak memanggil sapi-sapi yang terpisah dari kelompoknya. “Ayo kesini!! Ngapain sih makan jauh-jauh, sini ngumpul!”. Hehehe..kira-kira gitu kali ya..
Sapi-sapi ini juga mempunyai nama dan mengenal namanya masing-masing. Aku masih ingat ketika host cousin ku menerangkan bahwa sapi-sapi tersebut harus dirawat dalam kondisi tenang, tidak boleh mengalami stress, dan makan dengan cukup serta teratur. Pada saat musim panas, si gembala sapi akan menggiring sapi-sapi ke atas gunung, untuk menyantap rumput-rumput pegunungan yang lebat.
Lalu kemudian saat musim dingin, sapi-sapi tersebut akan digiring turun ke lembah untuk menyantap rumput-rumput yang tersisa serta gulungan-gulungan rumput yang telah disiapkan sejak musim panas. Ia menambahkan, dengan menjaga ritme pola hidup sapi yang pelan-pelan kenyang, maka sapi-sapi ini akan dapat menghasilkan susu dan daging yang berkualitas optimal.
Ahh..jadi ingin segera kembali ke sana..